Showing posts with label tasauf. Show all posts
Showing posts with label tasauf. Show all posts

Tuesday, October 2, 2012

HUKUM AJARAN TASAWWUF: FATWA LAJNAH TETAP UNTUK KAJIAN ILMIAH & FATWA ARAB SAUDI


التصوف نحلة مبتدعة في الإسلام، وكل بدعة ضلالة، وقد يؤول بأصحابه إلى الشرك والكفر بالله إذا وصل إلى الغلو في المشائخ وأنهم ينفعون أو يضرون من دون الله، أو الاستعانة بالأموات والذبح لهم، أو اعتقاد أن أصحاب الطرق الصوفية يتلقون دينهم من الله مباشرة، فلا حاجة بهم إلى اتباع الرسول صلى الله عليه وسلم، ويشرعون لأتباعهم عبادات وأذكارا ما أنزل الله بها من سلطان

Maksudnya: "Tasawwuf adalah satu ajaran yang bid'ah dalam Islam dan setiap perkara bid'ah itu menyesatkan dan boleh jadi membawa pengikutnya kepada Syirik dan Kufur terhadap ALLAH jika sampai kepada tahap Ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap para Syeikh dan beri'tiqad bahawa mereka itu memberi manfaat dan mudarat selain ALLAH atau memohon bantuan kepada orang mati dan menyembelih kerana mereka atau beriktiqad bahawa orang-orang tariqat Sufi itu menerima agama mereka daripada ALLAH secara langsung tidak berhajat kepada mengikut Rasul sallallahu 'alaihi wa sallam dan mereka (ketua-ketua tariqat) itu mensyariatkan kepada pengikut-pengikut mereka ibadat-ibadat dan zikir-zikir yang tidak diturunkan ALLAH padanya dalil".

وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: «من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد»

Maksudnya: "sedangkan Nabi sallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang tidak ada asal pada agama kami maka ia tertolak" [HR Muslim dan Ahmad].

فلا تجوز مصاحبة الصوفية ولا حضور مجالسهم، ولا يجوز إكرامهم وتشجيعهم، بل يجب الإنكار عليهم ومنعهم من مزاولة أعمالهم الصوفية ونشرها بين الناس، ويجب هجرهم والتحذير منهم.

Maksudnya: "Maka TIDAK BOLEH bersahabat dengan kaum Sufi dan Tidak Boleh menghadiri majlis-majlis mereka dan TIDAK boleh memuliakan mereka dan menggalakkan mereka bahkan WAJIB Ingkar atas mereka dan menghalang mereka daripada amalan-amalan kesufian mereka dan menghalang daripada mereka menyebarkannya kepada manusia dan Wajib memulaukan mereka dan memberi amaran akan bahaya mereka".

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Lajnah Tetap untuk Kajian Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Timb. Ketua: Abdul Aziz Al Syaikh
Anggota: Abdullah bin Ghudyan, Soleh al-Fauzan, Bakr Abu Zaid

FATWA NO.20235

Friday, March 12, 2010

Siapakah Kelompok Sufi

Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak

Kelompok Shufiyah (Sufi) telah menyebar di dunia Islam, sehingga kaum muslimin pun terbagi dua dalam menyikapi mereka. Ada yang mendukung dan ada yang menentang. Agar seseorang bisa menentukan berada di pihak yang mana dan bisa menyikapi mereka dengan benar, hendaknya ia mengetahui hakikat shufiyah yang sebenarnya. Benarkah pengakuan mereka sebagai pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu? Apakah mereka sesuai dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah?

Untuk mengetahui hakikat mereka tentunya kita harus merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih disertai penjelasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Siapakah Shufiyah?

Perlu diketahui, Shufiyah adalah satu lafadz yang tidak dikenal pada masa sahabat, juga tidak masyhur di masa generasi utama (sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in). Mereka muncul setelah masa tiga generasi utama. Ibnu Taimiyah rahimahullahu menyebutkan awal mula munculnya shufiyah adalah di Bashrah, Irak. (Lihat Fatawa, 11/5, Haqiqatu Ash-Shufiyah hal. 13)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya bid’ah tasawuf muncul setelah tahun 200 H. Tasawuf tidak ada di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di zaman sahabat maupun tabi’in.” (Mushara’ah hal. 376)

Nukilan di atas menunjukkan bahwa shufiyah adalah kelompok baru dalam Islam ini.

Pemikiran Shufiyah

Bila seseorang mau adil menelaah pemikiran dan akidah amalan shufiyah, dia akan dapati banyak sekali pemikiran, akidah, dan amalan shufiyah yang menyimpang dari Islam yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagai bentuk keadilan, marilah kita perhatikan apa yang akan kami paparkan mengenai beberapa penyimpangan prinsip, amalan, dan akidah shufiyah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

1. Shufiyah terpecah menjadi kelompok-kelompok atau thariqat-thariqat (tarekat-tarekat). Ada tarekat Tijaniyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Rifaiyah, dan lainnya. Demikianlah mereka berpecah-belah, padahal Islam melarang perpecahan dan hanya mengenal satu jalan saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ. مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَلاَ تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ.

“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32)

2. Sebagian shufiyah juga berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka berdoa kepada nabi dan wali mereka yang masih hidup maupun yang telah mati. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا

“Dan janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus: 106)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullahu mengatakan: “Barangsiapa memalingkan satu macam ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia adalah musyrik kafir. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا

“Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (Al-Mu’minun: 117) [Lihat kitab Tsalatsatul Ushul]

3. Shufiyah meyakini adanya badal dan quthub, yakni orang-orang yang mereka yakini sebagai wali dan diyakini ikut andil mengatur alam1. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يُخْرِجُ وَمَنْ وَالْأَبْصَارَ السَّمْعَ يَمْلِكُ أَمَّنْ وَالْأَرْضِ السَّمَاءِ مِنَ يَرْزُقُكُمْ مَنْ قُلْ

الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ

تَتَّقُونَ أَفَلَا فَقُلْ اللَّهُ فَسَيَقُولُونَ لْأَمْرَ يُدَبِّرُ اوَمَنْ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, serta siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus: 31)

4. Sebagian shufiyah meyakini wihdatul wujud (manunggaling kawula gusti). Menurut mereka, tidak ada Khalik dan makhluk (Pencipta dan yang dicipta), semuanya adalah makhluk dan semuanya adalah ilah.

5. Shufiyah membolehkan berjoget sambil menabuh rebana dan berdzikir dengan suara keras. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلُوبُهُمْ وَجِلَتْ اللَّهُ ذُكِرَ إِذَا الَّذِينَ الْمُؤْمِنُونَ إِنَّمَا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka.” (Al-Anfal: 2)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu menerangkan: “Ibnul Qayyim rahimahullahu pernah menerangkan bahwa beliau pernah melihat orang-orang shufiyah berjoget di Arafah. Beliau melihat mereka berjoget diiringi rebana. Juga melihat mereka berjoget di Masjid Khaif.” (Mushara’ah hal. 388 secara ringkas)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu juga mengatakan: “Pernah satu hari aku naik ke Masjidil Haram bagian atas. Aku dapati sekelompok besar manusia dari Turki, Sudan, dan Yaman, mereka berjoget sambil berputar-putar2….” (Musharaah hal. 387)

Di antara mereka juga adalah Muhammad Kabbani3, yang berkunjung ke Jakarta dan berdzikir serta mengajak yang hadir berjoget.

Kemudian mereka juga berdzikir dengan semata menyebut lafadz: اللهُ. Sebagian mereka hanya menyebut lafadz hu. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

اللهُ إِلَّا إِلَهَ لَا الذِّكْرِ أَفْضَلُ

“Dzikir yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah…” (HR. At-Tirmidzi)

6. Sebagian Shufiyah mengklaim tahu ilmu ghaib, padahal pengetahuan ilmu ghaib adalah kekhususan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ قُلْ

Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (An-Naml: 65)

8. Shufiyah mengklaim bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari cahaya-Nya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun Al-Qur’an mendustakan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan kamu itu adalah Ilah yang Esa’.” (Al-Kahfi: 110)

Firman-Nya tentang penciptaan Nabi Adam ‘alaihissalam:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ

(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (Shad: 71)

Adapun hadits: “Yang pertama diciptakan adalah cahaya Nabimu, wahai Jabir.” adalah hadits maudhu’ (palsu).

9. Shufiyah mengklaim bahwa ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah dilakukan karena takut kepada neraka atau mengharapkan surga. Mereka berpendapat bahwa ibadah karena mengharapkan surga adalah kesyirikan, sebagaimana diucapkan oleh tokoh mereka Sya’rawi. (Lihat Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitab was Sunnah hal. 20-21)

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ يَحْيَى لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ فَاسْتَجَبْنَا

الْخَيْرَاتِ فِي يُسَارِعُونَ كَانُوا إِنَّهُمْ

خَاشِعِينَ لَنَا وَكَانُوا وَرَهَبًا رَغَبًا وَيَدْعُونَنَا

"Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami.” (Al-Anbiya: 90)

Ibadah haruslah memenuhi tiga rukunnya: khauf (rasa takut), raja’ (rasa harap), dan mahabbah (rasa cinta).

10. Sebagian Shufiyah mengklaim bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan dunia karena Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala mendustakan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yakin (ajal).” (Al-Hijr: 99)

11. Mereka membaca shalawat-shalawat yang tidak diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan shalawat-shalawat yang mengandung kesyirikan, yang tak akan diridhai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.4

12. Shufiyah mengklaim bisa melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia. Al-Qur’an menunjukkan kedustaan mereka, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam:

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي

Dan tatkala Musa datang untuk (bermunajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku.” (Al-A’raf: 143) [Lihat Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitabi was Sunnah hal. 8-21]

————————————————————–
1 Keyakinan seperti ini adalah keyakinan yang syirik. Lain halnya bila yang dimaksud dengan istilah ini tidak sampai pada tingkatan rububiyah (ikut mengatur alam). -red
2 Tarian ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan whirling dervish. Dervish (darwis) adalah sebutan untuk penarinya. -red
3 Muhammad Hisham Kabbani, tokoh tarekat Naqsyabandiyah Haqqani. Oleh media, ia disebut-sebut sebagai “syaikh” sufi paling berpengaruh di dunia saat ini. –red
4 Di antaranya shalawat yang mereka namakan shalawat Nariyah. Ini adalah shalawat yang berisi kesyirikan karena disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu menghilangkan kesulitan, melapangkan kesusahan, dan menunaikan kebutuhan. (Lihat Al- Firqatun Najiyah)

Sumber: majalah asysyariah http://www.asysyariah.com

Thursday, May 14, 2009

TASAWUF: TITISAN AKIDAH NASRANI


OLEH: MUHAMMAD ASRIE BIN SOBRI

Ajaran Tasawuf merupakan ajaran yang menyeru kepada kehidupan zuhud dan membersihkan hati seperti yang telah masyhur dalam kalangan masyarakat Islam kita. Namun, ajaran Tasawuf ini bukanlah ajaran Zuhud yang semata-mata berpijak kepada al-Quran dan al-Sunnah tetapi suatu ajaran yang telah menyimpang dengan kemasukan pemikiran asing.
Seperti Ilmu Kalam, ilmu yang membicarakan akidah kaum muslimin dan menolak syubhat-syubhat kaum kafir terhadap akidah Islam, namun telah dicemari dengan ilmu-ilmu asing yang merosakkan seperti falsafah Yunani, akidah yang dibicarakan atas dasar ilmu kalam tidak lagi menjadi murni seperti yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.
Dalam artikel kali ini saya akan membicarakan salah satu pengaruh yang terbesar membentuk Ilmu Tasawuf iaitulah Akidah Kristian dan ajaran-ajarannya.
Pengaruh agama Kristian sangat jelas dalam pembentukan akidah Tasawuf dan amalan mereka sebagaimana yang sangat jelas melalui pengakuan-pengakuan kaum Sufi terdahulu sendiri.
Imam Ibn al-Jauzi r.h meriwayatkan bahawa Ibrahim bin Adham, seorang pemuka dan pembesar Tasawuf daripada generasi awal menyatakan bahawa dia mempelajari kehidupan zuhudnya daripada paderi Sam’an. Berkata Ibrahim bin Adham:
“Aku mempelajari al-Makrifah (salam satu nama yang diberi Sufi kepada Ilmu Tasawuf) daripada seorang Rahib (pendeta) bernama Sam’an, aku bertemu dengannya di biaranya lalu aku berkata kepadanya: ‘Wahai Sam’an, sudah berapa lama kamu berada di biara ini?’. Jawabnya: Sudah 70 tahun.
Aku bertanya lagi: ‘Apakah makanan kamu?’
Jawab Sam’an: ‘Wahai Hunaifi (gelaran si paderi kepada Ibrahim), kenapa kamu bertanya semua ini?’
Jawabku: ‘Aku ingin mengetahuinya’.
Jawab Sam’an: ‘Setiap malam aku hanya makan sebiji Hims (sejenis bijirin)’.
Kataku: ‘Apakah yang mendorong kamu sehingga kamu hanya cukup makan ini sahaja?’
Jawab Sam’an: “Adakah kamu nampak mereka yang berada setentang dengan kamu itu?’
Jawabku: ‘ya’. Kata Sam’an: ‘Mereka ini akan datang setahun sekali ke biara ku ini dan menghiasnya serta bertawaf padanya kerana memuliakan aku, jika aku berasa berat untuk beribadah maka aku akan mengingat kembali bahawa aku telah mempu berjuang selama setahun untuk berhasil kemuliaan yang sekejap ini, maka bertahanlah wahai Hunaifi kesusuhan sekejap untuk kemuliaan yang abadi’.
Kataku: ‘Maka ketika itu tetaplah al-Makrifah dalam hatiku...” [Talbis Iblis, Ibn al-Jauzi, m.s 189-190, cet. Darul Kitab al-Arabi-Beirut, Edisi Pertama].
Jelas sekali dalam pernyataan Ibrahim bin Adham yang disifatkan oleh kaum sufi sebagai tokoh mereka yang terkemuka dan wali yang diberi pelabagai karamah ajaran mereka sebenarnya diambil dan diceduk daripada unsur dan pemikiran kepaderian Kristian.
Imam Muhammad bin Sirin r.h juga menyatakan bahawa ajaran Sufi ini diambil daripada ajaran Kristian berdasarkan pakaian yang mereka pakai iaitu Suf (pakaian daripada bulu bebiri). Imam Abu Syeikh al-Asbahani meriwayatkan:
عن محمد بن سيرين أنه بلغه أن قوما يفضلون لباس الصوف، فقال : إن قوما يتخيرون الصوف، يقولون : أنهم متشبهون بالمسيح ابن مريم، وهدي نبينا أحب إلينا، وكان النبي صلى الله عليه وسلم يلبس القطن وغيره
Maksudnya: “Daripada Muhammad bin Sirin bahawa telah sampai kepadanya terdapat kaum yang menyukai pemakaian pakaian yang dibuat daripada Suf maka beliau berkata: Sesungguhnya mereka ini meniru gaya hidup al-Masih bin Maryam sedangkan petunjuk Nabi kita (Muhammad s.a.w) lebih kita sukai, adalah Nabi s.a.w memakai pakaian daripada kapas dan selainnya”. [Majmuk Fatawa Ibn Taimiah, 11/7].
Al-Sahruwardi dalam kitabnya yang ulung di sisi kaum Sufi, ‘Awariful Ma’arif berkata:
كان عيسى عليه السلام يلبس الصوف , ويأكل من الشجرة , ويبيت حيث أمسى
Maksudnya: “Adalah Isa a.s memakai pakaian Suf dan memakan pokok-pokok (Vegertarian) dan tidur di mana sahaja dia kemalaman”. [‘Awariful Ma’arif, m.s 59, cet Darul Kitab al-Arabi, dinaqal daripada al-Tasawwuf: al-Mansya’ wal Masadar, Imam Ihsan Ilahi Zahir, Mausuah al-Radd ala al-Sufiah].
Kenyataan yang sama juga dikeluarkan oleh al-Kalabazi dalam kitabnya yang masyhur, al-Ta’aruf ‘li Mazhab Ahli al-Tasawwuf. [al-Tasawwuf : al-Mansya’ wal Masdar]
Sahl al-Tasturi juga mengaku bahawa pakaian Suf adalah diambil daripada ajaran Nasrani sebagaimana dalam Tabaqat al-Kubra:
اجتمعت بشخص من أصحاب المسيح عليه الصلاة والسلام في ديار قوم عاد فسلمت عليه فرد علي السلام فرأيت عليه جبة صوف فيها طراوة، فقال لي: إنها علي من أيام المسيح فتعجبت من ذلك فقال يا سهل، إن الأبدان لا تخلق الثياب إنما يخلقها رائحة الذنوب، ومطاعم السحت فقلت له: فكم لهذه الجبة عليك فقال لها على سبعمائة سنة
Maksudnya: “Kau berjumpa dengan seorang lelaki daripada teman al-Masih a.s (Hawariy) di sebuah perkampungan kaum Ad lalu aku memberi salam kepadanya dan dia membalas salamku. Aku dapati dia memakai Jubah Suf yang ada garisan-garisan, lalu dia berkata: ‘Aku memakainya semenjak al-Masih masih ada’. Lalu aku menjadi kagum dengan perkara itu lalu dia berkata: ‘Wahai Sahl, sesungguhnya badan itu tidak merosakkan pakaian tetapi yang merosakkannya adalah bau dosa dan makanan yang haram’. Lalu aku berkata: ‘Berapa lama sudahkah jubah ini kamu pakai?’ Jawabnya: ‘700 tahun’...” [Tabaqat al-Kubra, al-Sya’rani, 1/77].
Lihatlah betapa karutnya cerita ini, mana mungkin terdapat lagi Hawariyy yang hidup selama 700 tahun setelah al-Masih a.s diangkat ke langit. Sedia maklum semua anak murid Nabi Isa a.s semuanya telah wafat sebelum berlaku penyelewengan dalam ajaran Nasrani. Tidak syak lagi lelaki yang dijumpai si Sahl ini adalah Syaitan yang menyamar.
Tindakan Sufi memakai pakaian kaum Nasrani dan meniru cara hidup kepaderian Nasrani adalah sesuatu yang dilarang dalam Islam sebagaiman firman Allah Taala:
وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا فَآتَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
Maksudnya: “dan (perbuatan mereka beribadat secara) "Rahbaniyyah" - merekalah sahaja Yang mengadakan dan merekanya; Kami tidak mewajibkannya atas mereka; (Mereka berbuat demikian) kerana mencari keredaan Allah; Dalam pada itu mereka tidak menjaga dan memeliharanya menurut Yang sewajibnya. oleh itu, orang-orang Yang beriman (kepada Nabi Muhammad) di antara mereka, Kami berikan pahalanya, dan (sebaliknya) banyak di antara mereka Yang fasik - derhaka.” [al-Hadid: 27]
Imam Ibn Kasir r.h menyatakan:
“dan ayat ini merupakan celaan terhadap mereka (kaum Nasrani) daripada dua segi, pertama: perbuatan mereka mencipta bidaah dalam agama Allah yang tidak disuruh Allah, kedua: Mereka tidak melaksanakan pula bidaah yang mereka cipta itu dengan sebenarnya sedangkan mereka menyatakan ianya adalah amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla”. [Ibn Kasir, 8/29].
Sabda Nabi s.a.w:
إياكم ولباس الرهبان فانه من ترهب او تشبه فليس مني
Maksudnya: “Jauhilah kamu pakaian kaum Paderi kerana sesiapa yang meniru kehidupan mereka bukanlah daripada ku”. [al-Tabrani dalam Mukjam al-Awsat].
Antara pengaruh ajaran Paderi yang nyata dalam Tasawuf adalah bersunyi diri dalam biara-biara dan pondok-pondok dan meninggalkan kehidpan berkelamin. Dua perkara ini merupakan rukun kepaderian yang utama kerana Paderi itu adalah seorang yang tidak berkahwin dan mengasingkan diri daripada manusia dalam biara.
Bahkan sumber sufi sendiri menyatakan bahawa orang pertama yang membina pondok sufi adalah seorang Raja Nasrani sebagaimana yang disebutkan oleh Abdul Rahman al-Jami seorang pembesar Sufi dalam kitabnya Nafahat al-Uns:
أن أبا هاشم الكوفي أول من دعى بالصوفي , ولم يسم أحد قبله بهذا الاسم , كما أن أول خانقاه بني للصوفية هو ذلك الذي في رملة الشام , والسبب في ذلك أن الأمير النصراني كان قد ذهب للقنص فشاهد فشاهد شخصين من هذه الطائفة الصوفية سنح له لقاؤهما وقد احتضن أحدهما الآخر وجلسا هناك , وتناولا معا كل ما كان معهما من طعام , ثم سارا لشأنهما , فسرّ الأمير النصراني من معاملتهما وأخلاقهما , فاستدعى أحدهما , وقال له : من هو ذاك ؟
قال : لا أعرفه , قال : وما صلتك به ؟ .
قال : لا شيء . قال : فمن كان ؟ .
قال : لا أدري , فقال الأمير : فما هذه الألفة التي كانت بينكما ؟ .
فقال الدرويش : إن هذه طريقتنا , قال : هل لكم من مكان تأوون إليه ؟ .
قال : لا , قال : فإني أقيم لكما محلا تأويان إليه , فبنى لهما هذه الخانقاه في الرملة
Maksudnya: “Sesungguhnya Abu Hasyim al-Kufi adalah orang pertama yang digelar sebagai al-Sufi dan tidak ada sesiapa pun sebelum beliau yang diberikan julukan seperti ini, demikian juga pondok yang pertama bagi kaum Sufi adalah yang dibina di Ramlah, Syam. Sebabnya adalah seorang Raja Nasrani keluar berburu lalu dia melihat dua orang daripada kumpulan sufi yang sangat gembira dengan perjumpaan antara keduanya dan mereka berpelukan lalu duduk di sana, makan bersama bekalan makan mereka kemudian meneruskan pekerjaan mereka. Raja Nasrani tadi sangat gembira dengan tingkah laku mereka lalu memanggil salah seorang daripada mereka dan bertanya: Siapakah teman mu itu? Jawab si sufi: Tidak kenal. Tanya Raja: Apa hubungan kamu berdua? Jawab si Sufi: Tiada apa-apa. Tanya Raja: Maka siapakah dia sebenarnya? Jawab si Sufi: Aku tidak tahu. Tanya Raja: Apakah maksud kemesraan antara kamu berdua ini? Jawab si Darwish (sufi): Ini adalah cara kami (kaum sufi). Tanya Raja: Kamu mempunyai tempat berteduh? Jawab si Sufi: Tiada. Kata Raja: Aku akan bina bagi kamu tempat untuk kamu berteduh. Maka si Raja membina pondok (Khaniqah) ini di Ramlah”. [Nafahat al-Uns, cet Farsi m,s 31, cet Iran m,s 32, dinaqal daripada al-Tasawwuf: al-Mansya’ wal Masdar, Ihsan Ilahi Zahir].
Dalam Tabaqat al-Kubra, seorang lagi Sufi besar bernama Ibrahim bin Usaifir seorang yang melazimi Gereja Kristian dan memuji cara ibadat kaum Nasrani. Berkata al-Sya’rani:
وكان رضي الله عنه كثير الشطح، وكان أكثر نومه في الكنيسة، ويقول النصارى لا يسرقون النعال في الكنيسة بخلاف المسلمين، وكان رضي الله عنه يقول: أنا ما عندي من يصوم حقيقة إلا من لا يأكل اللحم الضاني أيام الصوم كالنصارى، وأما المسلمون الذين يأكلون اللحم الضاني، والدجاج أيام الصوم فصومهم عندي باطل
Maksudnya: “Adalah dia radiallahu anhu banyak latahan, banyak pula tidur di gereja dan dia berkata: ‘Kaum Nasrani tidak mencuri kasut di gereja berbeza dengan kaum muslimin’, dia juga berkata: ‘Pada pendapatku tidak ada puasa yang sebenar kecuali mereka yang tidak makan daging kambing pada hari dia berpuasa seperti kaum Nasrani, adapun orang Islam yang berpuasa tetapi masih memakan ayam dan kambing (yakni semasa sahur dan berbuka) maka puasa mereka batal pada sisiku”. [Tabaqat al-Kubra, al-Sya’rani, 1/370].
Demikianlah betapa jelasnya hubungan kaum sufi dengan orang-orang Kristian, demikian juga akidah mereka dalam masalah perkahwinan iaitu sangat membenci perkahwinan menunjukkan mereka memilih hidup kepaderian.
Al-Tusi dalam kitabnya yang merupakan Ibu kitab kaum sufi, al-Luma’ menyatakan bahawa antara adab mereka yang berkahwin adalah tidak menyentuh isterinya yang jelas tergambar apabila dia meriwayatkan daripada Abu Said bin al-A’rabi bahawa dia berkahwin selama 30 tahun sedangkan isterinya masih dara. [al-Luma’ fi al-Tasawwuf, m.s 199, cet. Breil, Leidin, 1914M].
Demikian juga dia meriwayatkan bahawa Ibrahim bin Adham berkata:
“Apabila seseorang berkahwin maka dia seumpama menaiki kapal apabila dia mendapat anak dia ibarat telah karam”. [Ibid]
Ini adalah penghinaan kepada perkahwinan sedangkan Allah Taala berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Maksudnya: “dan daripada tanda-tanda kebesaranNya adalah Dia menjadikan dari diri kamu pasangan-pasangan supaya kamu boleh bersamanya dan dijadikan antara kamu mawaddah dan rahmah, sesungguhnya dalam pada itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mahu berfikir”. [al-Rum: 21].
Ahli Tafsir seperti Ibn Abbas r.a dan Mujahid menyatakan maksu al-Mawadah adalah hubungan seks antara suami isteri dan al-Rahmah adalah anak-anak. Demikian juga Nabi s.a.w bersabda:
عن أنس قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأمر بالباءة وينهى عن التبتل نهيا شديدا ويقول تزوجوا الودود الولود إنى مكاثر بكم الانبياء يوم القيامة
Maksudnya: “Daripada Anas katanya: Adalah Rasulullah s.a.w menyuruh kami hidup berkelamin (berkawin) dan melarang keras hidup membujang dan baginda bersabda: ‘Kahwinlah kamu wanita yang sangat mencintai kamu dan boleh melahirkan ramai anak kerana sesungguhnya aku berbangga di hadapan para Nabi yang lain dengan banyaknya umatku”. [Ahmad dan al-Tabrani dalam al-Awsat].
Namun, tokoh besar sufi yang sangat mereka banggakan, Ibrahim bin Adham seorang yang telah melarikan diri daripada anak isteri, meninggalkan tanggungjawabnya, ini bukanlah sunnah Nabi s.a.w sedikit pun.
Malik bin Dinar berkata: “Tidak akan sampai seorang lelaki martabat al-Siddiq melainkan dia tinggalkan isterinya seolah-olah menjanda dan pergi tinggal di tempat najis anjing”. [Siyar A’lam al-Nubala’, 15/171].
Ini jelas melanggar perintah Allah Taala:
وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
Maksudnya: “dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri kamu sekalipun kamu bersungguh-sungguh (hendak melakukannya); oleh itu janganlah kamu cenderung Dengan melampau (berat sebelah kepada isteri Yang kamu sayangi) sehingga kamu biarkan isteri Yang lain seperti benda Yang tergantung (di awan-awan); dan jika kamu memperbaiki (Keadaan Yang pincang itu), dan memelihara diri (daripada perbuatan Yang zalim), maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”[al-Nisaa: 129]
Ayat ini jelas melarang perbuatan menggantung isteri secara tidak bertali tetapi kaum sufi menjadikan perbuatan maksiat ini sebagai ibadah kepada Allah Taala. Saidina Abu Bakar al-Siddiq adalah Sahabat dan Umat Nabi Muhammad s.a.w yang paling afdal dan dia merupakan manusia yang sempurna maqam Siddiqnya, namun ketika beliau wafat dalam usia 63 tahun, isteri beliau yang paling muda sedang mengandungkan anak bongsunya. Lihatlah betapa jauhnya jalan sufi ini dengan jalan yang ditempuh para Sahabat radiallahua anhum.
Malik bin Dinar yang merupakan pemuka Tasawwuf yang utama juga seorang yang terkenal meriwayatkan Israiliyyat sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Nabhani dalam Hilyatul Aulaiya’, kebanyakan nasihat dan dalil yang digunakan oleh Malik bin Dinar adalah daripada Taurat atau diriwayatkan dalam sebahagian kitab atau Allah berfirman dalam sebahagian kitabNya, dan seumpamanya yang semuanya menunjukkan kepada israiliyyat. Ini menjelaskan lagi sumber ajaran Tasawwuf yang bersumber kepada ajaran Nasrani bahkan mungkin juga Yahudi. [Rujuk Hilyatul Auliya’, Juz 2, terjemahan hidup Malik bin Dinar].
Imam al-Zahabi r.h menyatakan:
فَالخَلْوَةُ وَالجُوْعُ أَبُو جَادِ التَّرهُّبِ، وَلَيْسَ ذَلِكَ مِنْ شَرِيْعَتِنَا فِي شَيْءٍ.
Maksudnya: “Maka berkhulwah (bertapa, uzalah, suluk) dan berlapar itu adalah asas kepada sitem paderi dan bukanlah berasal sama sekali daripada Syariat kita”. [Siyar A’lam al-Nubala’, 12/90].

Ini adalah bentuk pengaruh Nasrani dalam ibadat kaum Sufi ini sehingga tidak dapat dinafikan lagi bahawa Bible merupakan sumber utama bagi ajaran Tasawwuf melebihi al-Quran dan al-Sunnah sendiri. Kemuncak pengaruh ajaran Nasrani dalam ajaran Tasawuf adalah dengan masuknya akidah Ittihad (bersatu Makhluk dengan Tuhan), Hulul (Tuhan bersatu dengan Makhluk), dan Wihdatul Wujud (Kesatuan Makhluk dan Khaliq).

Dalam agama Kristian, Nabi Isa a.s digambarkan sebagai seorang yang mempunyai sifat Nasut iaitu manusia dan Lahut iaitu ketuhanan. Istilah Nasut dan Lahut ini adalah istilah Kristian mutlak yang kemudiannya digunakan oleh al-Hallaj untuk menggambarkan akidah Hulul yang dianutinya [Akidah dan Suluk dalam Tasawuf: Antara Keaslian dan Penyelewengan, Dr Abdul Fattah Fawi, terj;Basri bin Ibrahim, 50&51] :
سبحان من أظهر ناسوته * سر سنا لاهوته الثاقب
ثم بدا في خلقه ظاهرا * في صورة الآكل والشارب
حتى لقد عاينه خلقه * كلحظة الحاجب بالحاجب
Maksudnya: “Maha Suci Zat yang telah menzahirkan sifat nasutNya, maka begermerlapanlah cahaya lahutNya, kemudian Dia muncul pada makhlukNya dengan terang dalam bentuk manusia yang makan dan minum sehingga makhlukNya dapat melihatNya seolah-olah garisan kening dengan kening”. [al-Hallaj: al-A’mal al-Kamilah, Dewan al-Hallaj, Qasim Muhammad Abbas, 391, Riad al-Rais, Beirut-Lubnan, cet 2002].
Akidah Hallaj merupakan lanjutan daripada akidah Nasrani mutlak sehingga terdapat murid-muridnya menyangka bahawa yangb disalib dan dibunuh oleh Khalifah bukanlah al-Hallaj tetapi seseorang yang disamakan dengan Hallaj. [al-Farqu bainal Firaq, 237].
Demikianlah serba ringkas dapat kita melihat gambaran pengaruh Kristian dalam pembentukan Tasawuf dan tidak syak lagi walau sebesar zarah mahupun lebih kecil daripadanya bahawa Tasawuf adalah ajaran kufur yang diserap masuk oleh musuh-musuh Islam dalam kalangan kaum muslimin untuk merosakkan mereka. Wallahua’lam.